Friday, 10 November 2017

Dipenjara, Semangat Jonru Ternyata Semakin Bergelora, Ini Buktinya!

Dipenjara, Semangat Jonru Ternyata Semakin Bergelora, Ini Buktinya!

Berita Islam 24H - Banyak tokoh besar pernah merasakan masuk penjara, salah satu contohnya adalah Buya Hamka yang menjadikan penjara sebagai sarana untuk menulis dan terus menulis. Produktivitas mereka dalam menulis tidak mati meski dijebloskan ke penjara oleh rezim.

Tampaknya hal demikian terjadi pada sosok Jonru Ginting. Meski didalam penjara, semangatnya terus bergelora. Fisiknya dipenjara, tapi ide, gagasannya serta nyalinya untuk terus berjuang tidak pernah putus walau satu detik saja.

Apa buktinya kalau semangat Jonru tetap bergelora? Tulisan berikut ini jawabannya.

Silahkan membaca.

***

#HARUSKAH_KITA_MENYERAH ?

By: Jonru Ginting

“Engkau boleh memenjarakan ragaku, namun pemikiran dan hati nurani ku adalah suara kebenaran yang tidak akan pernah bisa engkau jebloskan ke penjara manapun”.

Selama mendekam di rumah tahanan Polda Metro Jaya (sejak 30 September 2017 lalu) saya tidak bisa pegang handphone, tak ada laptop, tak ada akses Internet. Saya nyaris ketinggalan perkembangan berita terbaru. Biasanya saya mengetahui berita tertentu dari cerita teman teman atau kerabat yang datang menjenguk. Terkadang mereka mencetak berita tertentu dari media online, lalu membawakannya untuk saya baca.

Salah satu berita memprihatinkan yang saya dengar adalah :

Setiap kali ada akun baru di medsos yang pakai nama Jonru, maka akan segera di serang, sehingga akhirnya tumbang. Bahkan sejumlah postingan di akun teman teman yang membahas Jonru pun tiba tiba hilang karena di laporkan sebagai spam.

Sungguh ini merupakan upaya yang sangat sadis dan brutal dari mereka yang ingin membungkam aspirasi masyarakat. Sangat jelas terlihat bahwa mereka sangat takut terhadap pengaruh tulisan tulisan saya yang menyuarakan kebenaran serta membongkar kebobrokan mereka.

Maka merekapun melakukan berbagai macam upaya untuk ” membinasakan” segala sesuatu tentang Jonru dari media sosial.

Saya tiba tiba teringat pada sosok ulama besar Turki, Badiuzzaman said Nursi. Hmm.. saya bukan ingin membandingkan diri yang hina ini dengan sosok ulama ternama. Sungguh , saya sangat tidak ada apa apanya di banding beliau.

Saya hanya hendak berkata bahwa situasi yang saya alami saat ini mirip sekali dengan yang dulu di alami Said Nursi.

Pemerintah Turki yang sekuler, ketika itu sangat tidak menyukai keberadaan said Nursi. Ulama besar ini sangat gencar mendakwahkan Islam kepada masyarakat. Bahkan ketika beliau ” di penjara” di sebuah desa terpencil sekalipun. Tetap saja banyak warga yang mendatangi beliau utk belajar.

Karena itu , pemerintah Turki pun akhirnya mengasingkan Said Nursi ke sebuah desa yang sangat terpencil dan sangat sulit di jangkau, bernama Barla. Tujuannya agar tidak ada lagi orang yang bisa mendatangi beliau. Juga agar secara perlahan namun pasti Said Nursi di lupakan oleh masyarakat.

Di desa Barla , said Nursi memang benar benar terasing, hanya bisa bertemu dan berinteraksi dengan penduduk setempat yang jumlahnya sangat sedikit.

Kita mungkin berfikir bahwa itu merupakan akhir dari riwayat hidup said Nursi sebagai seorang ulama. Ia akan menghabiskan hidupnya di sana , kesepian, tak ada yang peduli padanya.

Namun ternyata , situasi tersebut justru menjadi awal dari kebangkitan besar bagi pergerakan umat Islam di Turki.

Saat itu Said Nursi menulis catatan pemikirannya di atas secarik kertas. Lalu kertas itu beliau serahkan kepada orang kepercayaannya di desa Barla. Orang kepercayaannya kemudian membawa kertas tersebut keluar dari desa melalui perjalanan yang sangat jauh dan memakan waktu yang lama dan sungguh perjalanan yg melelahkan. Di desa lain dia menyerahkan kertas itu kepada teman nya, lalu temannya ini membawa lagi kertas tersebut kepada orang lain.

Akhirnya , catatan Said Nursi tiba di tangan para murid beliau. Mereka mencetaknya , lalu menyebarluaskannya kepada masyarakat.

Seperti itulah proses penyebarluasan kertas demi kertas yg berisikan catatan dari Sa’id Nursi. Tanpa terasa , jumlah tulisan beliau ternyata sudah sangat banyak. Hingga akhirnya di terbitkan menjadi buku berjudul “Risalah Nur”

Buku tersebut sangat luar biasa, mempengaruhi pemikiran banyak orang. Bahkan pemimpin baru di Turki ketika itu mulai bersikap moderat dengan cara memperbolehkan pengajaran agama Islam di sekolah , dan seterusnya.

Dalam bahasa yang sederhana , bisa saya simpulkan bahwa Risalah Nur merupakan salah satu wasilah bagi kebangkitan Islam di Turki saat ini.

Dari novel API TAUHID karya Habiburrahman El shirazy saya mendapat gambaran bahwa proses sekularisasi Turki di era Mustafa Kamal sungguh sangat sadis dan kejam.

Bayangkanlah ; ketika itu ibu kota Turki sampai di pindahkan ke Ankara, karena Islamabad adalah simbol Islam di sana pada saat itu.semua sekolah Islam di bubarkan. Pemakaian bahasa Arab di larang, bahkan lantunan adzan pun harus dalam bahasa Turki.

Pemerintah Turki saat itu berusaha memadamkan api Islam dari negeri mereka, bahkan di musnahkan sampai habis tak bersisa. Bahkan simbol simbol Islam seperti pakaian dan bahasa Arab pun di larang di gunakan.

Dalam situasi yg sangat gelap gulita seperti itu. Justru pemikiran pemikiran Badiuzzaman said Nursi yang terangkum dalam buku Risalah Nur berhasil mempertahankan nilai-nilai Islam yang pada akhirnya mejadi cikal bakal dari kebangkitan Islam di Turki.

Jadi jika hari ini kita melihat Islam bisa bangkit lagi di Turki di bawah kepemimpinan presiden Erdogan, kita tidak boleh lupa bahwa ada peran Risalah Nur di dalamnya.

*****

Kebenaran tidak akan pernah bisa di bungkam. Itulah kesimpulan saya setelah membaca kisah Badiuzzaman Said Nursi.

Semakin di bungkam, semakin hendak di matikan, justru api kebenaran akan semakin membara.

Hari ini di Indonesia, kita bisa menyaksikan bahwa pada skala tertentu, situasi yang di hadapi oleh umat Islam punya kemiripan dengan kondisi umat Islam di Turki pada era Mustafa kamal.

Memang situasinya belum seburuk Turki. Kita masih bebas mengumandangkan adzan dalam bahasa aslinya. Pesantren pesantren masih bebas beroperasi dan bahasa Arab pun masih boleh di gunakan.

Ya, nasib kita saat ini masih jauh lebih baik. Namun kita tidak boleh lupa bahwa banyak ulama di Indonesia yang hari ini di kriminalisasi, ormas ormas Islam mulai di bubarkan( bahkan kini ada payung hukumnya berupa perpu), banyak aktivis di media sosial ( termasuk saya ) yang di tangkap.

Sementara para penghina Islam masih bebas berkeliaran di luar sana. Mereka seperti kebal, tidak mempan sama sekali oleh jeratan hukum.

Yang saya ceritakan pada bagian awal tulisan ini,yakni usaha untuk ” membinasakan” segala sesuatu tentang Jonru dari media sosial , hanyalah contoh kecil dari upaya upaya memadamkan api Islam di Indonesia.

Haruskah kita menyerah ?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya ingin mengajak teman-teman untuk kembali menyimak perjuangan para ulama besar beserta para pendukung nya yang telah juga di uraikan di atas.

Jika di cermati dengan seksama , kita akan sangat takjub saat menyadari bahwa proses penyebarluasan catatan catatan said Nursi dari desa Barla ketika itu sangat mirip dengan cara memviralkan status Facebook.

Kita tiba tiba akan menyadari di era ketika belum ada komputer , belum ada internet, dan media sosial. Bahkan di masa ketika umat Islam di tekan dan dzalimi dengan sangat buruk, jauh lebih buruk di banding perlakuan umat Islam di Indonesia.

Hari ini justru Badiuzzaman Said Nursi (di bantu oleh pendukung beliau) berhasil melahirkan karya yg sangat luar biasa. Risalah Nur.

Kita , umat Islam Indonesia , hari ini hidup di era yang lebih baik. Kita hidup di era media sosial yang sangat canggih, penuh dengan kenyamanan dan kemudahan.

Karena itu , sungguh sangat konyol jika kita demikian mudah menyerah hanya karena banyak ulama dan aktivis yang di kriminalisasi.

Saya , Jonru , Inshaa Allah tidak akan pernah menyerah.

Walaupun saya harus berhadapan dengan sekelompok manusia barbar yang akan menghilangkan segala sesuatu tentang Jonru dari media sosial.

Walau saya harus menggunakan tulisan tangan di atas lembaran lembaran kertas pada sebuah buku, di ruang tahanan yang penuh dengan keterbatasan.

Namun saya sebagai seorang Muslim cyber army (MCA) Inshaa Allah akan terus berjuang hingga tetes darah penghabisan.

Saya mungkin tidak bisa melahirkan karya sehebat Risalah Nur. Namun saya terinspirasi oleh perjuangan Said Nursi beserta para pendukung beliau.

Kita hari ini bisa menyaksikan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang hendak menghentikan perjuangan MCA. Mereka hendak memadamkan semangat MCA, membinasakan perjuangan kita dari media sosial.

Bahkan secara lebih luas, mereka hendak memadamkan api Islam dari bumi NKRI tercinta, mirip dengan Turki di era Mustafa Kamal.

Haruskah kita menyerah ??

Jawaban saya TIDAK

Bagaimana dengan anda ??

Rutan Polda Metro Jaya

8 November 2017

Jonru Ginting [beritaislam24h.info / hrk]
Buya Hamka Dulu, Ustad Abdul Somad Sekarang

Buya Hamka Dulu, Ustad Abdul Somad Sekarang

Berita Islam 24H - Tulisan sederhana ini bukan bermaksud membanding-bandingkan, melebihkan yang satu mengurangi yang lain, memuji-muji dan mengangkat yang satu merendahkan yang lain. Antara pribadi Buya Hamka (1908-1981) dengan seorang ustad yang sekarang sedang naik daun di dunia youtube, bernama Ustad Abdul Somad (selanjutnya ditulis UAS). Melainkan hendak menampilkan nilai-nilai apa saja yang bisa kita petik dari kepribadian kedua alim tersebut, untuk dijadikan teladan bagi umat.

Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), meraih gelar Dr HC (doktor honoris causa) atas pemberian universitas Islam tertua di dunia, Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Berasal dari keluarga ulama pula, bahkan ayahnya pun mendapatkan gelar Dr HC dari universitas yang sama. Ayah dan anak yang sama-sama meraih gelar kehormatan dari kampus Islam ternama. Sehingga ayah Hamka yang bernama Abdul Karim Amrullah, oleh masyarakat kampungnya di Maninjau-Agam, dipanggil dengan sebutan “Inyiak Deer” (lebih lanjut baca buku “Ayahku” karya Hamka, 1982).

Pribadi Hamka adalah seorang ulama cum sastrawan dan politisi, sudah menjadi sosok panutan umat Islam di zamannya. Tak hanya di Indonesia, nama besar beliau menggema di Asia Tenggara. Bahkan mantan perdana menteri Malaysia, Tun Abdul Razak kala meninggalnya Buya Hamka mengatakan, “Hamka tidak hanya milik bangsa Indonesia, tetapi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.”

Buya Hamka telah menunjukkan kemampuan menulisnya sejak usia 17 tahun. Sejak itu sampai Buya meninggal, beliau sudah menulis 118 buku; bertemakan agama, sejarah, novel, biografi, adat Minangkabau, politik, ideologi, negara, filsafat dan tafsir Alquran yang berjilid-jilid (Rusydi Hamka, 2017). Sungguh ini bentuk produktivitas yang luar biasa, di tengah mesin cetak, perangkat penerbitan dan mesin ketik belum secanggih dan sebanyak zaman kini.

Lebih mengagumkan lagi, Buya adalah sosok otodidak dalam proses perkembangan intelektualnya yang multidisplin dan unik. Otodidak dalam artian, beliau tidak pernah duduk di bangku sekolah formal sampai jenjang universitas (Irfan Hamka, 2013). Bahkan SD pun hanya dialaminya selama 3 tahun, lalu berhenti.

Walaupun untuk pengetahuan agama, modal dasar dari ayahnya, seorang ulama pembaharu Islam di Indonesia dan pendiri Sumatera Thawalib (lebih lanjut lihat “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”, Deliar Noer, 1982) sudah cukup kiranya sebagai pijakan dasar dalam memahami khazanah keilmuan Islam.

Hamka kemudian dikenal dengan sikapnya yang gigih, tegas dan lurus dalam berprinsip. Ketika menjabat sebagai ketua umum MUI pusat pertama tahun 1975-1981, Hamka dengan tegas mengeluarkan fatwa terkait pelarangan (haram) perayaan Natal bersama di masyarakat. Tentulah fatwa ini menimbulkan gejolak, khususnya bagi pemerintah.

Tapi, Hamka tetaplah Hamka, yang tegak punggungnya, berpijak pada prinsip yang lurus dan tak bisa dibeli. Sebagai seorang ulama, beliau sering berpetuah, “Menjadi ulama itu seperti kue bika, dipanggang dari atas (intervensi/kemauan pemerintah-red), dipanggang dari bawah (aspirasi umat-red).” Prinsip lurusnya Buya tadi dibuktikan dengan pengunduran dirinya sebagai ketua umum MUI pusat, karena perbedaan pandangan dengan pemerintah Soeharto.

Setiap hari setelah shalat Subuh berjamaah, Buya selalu memberikan kuliah Subuh di depan para jamaahnya, yang memadati Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru. Seperti yang diungkapkan wartawan senior Rosihan Anwar (1922-2011). “...Di samping itu, pengajian dan kuliah Subuh berkembang di berbagai masjid.

Akan tetapi, agaknya kuliah Subuh yang paling mendapat minat, ialah yang dipimpin oleh Hamka sendiri di Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru. Tafsiran Alquran yang diberikannya di kuliah Subuh itu memperoleh pendengar yang banyak...” (Rusydi Hamka, hal. 181).

Jamaah selalu memadati pengajian kuliah Subuh tersebut. Model ceramahnya sangat klasik. Diawali ceramah, selepas itu para jamaah diberikan kesempatan bertanya, baik secara langsung maupun melalui kertas yang sudah ditulis pertanyaan. Mendengar ceramahnya, kita akan mudah ingat karena bahasa dan logat Buya yang khas, suaranya yang agak parau, ditambah dengan seringnya Buya mengutip pepatah-petitih tradisional Minang (Melayu), jika hendak menerangkan sebuah perkara.

Ditambah lagi, wawasan keilmuan Islam yang dalam, Buya memang mampu membuat suatu soalan menjadi terlihat mudah, tapi bukan untuk menyepelekan. Ketika menjawab perihal hukum fiqh yang tinggi tingkat khilafiyahnya, Buya menerangkan ragam kalam ulama, seraya tak lupa mengutip ayat Quran dan Hadist. Buya adalah sosok yang sangat toleran terhadap perbedaan fiqh, masalah-masalah furu’iyah.

Kisah yang cukup dikenal masyarakat adalah, di saat Buya bertamu ke kediaman ulama Betawi KH Abdullah Syafii di daerah Tebet Jakarta Selatan. Kala itu Buya diminta menjadi imam shalat Subuh oleh sohibul bait, Buya lantas maju menjadi imam. KH Abdullah Syafii berkeyakinan qunut Subuh hukumnya sunah ab’ad dalam Madzhab Syafii, hukumnya seperti duduk tahiyat awal ketika salat Zuhur/Ashar/Maghrib/Isya.

Sebagai tokoh Muhammadiyah yang berkeyakinan tidak ada qunut Subuh, namun dengan senang hati Buya melakukan qunut Subuh demi menghormati sang tuan rumah. Buya menghormati orang yang berbeda prinsip fiqh dengan dirinya, bukan dengan cerita, tetapi melalui tindakan nyata.

Begitu pula ketika K. Abdullah Syafii bertamu ke Buya di Masjid Al-Azhar pada suatu Jumat. Ketika hendak khutbah, Buya mempersilakan kiai gaek ini menjadi katib Jumat, padahal jadwal katib sebenarnya adalah Buya sendiri. Bahkan, Buya meminta muadzin untuk azan Jumat sebanyak 2 kali, sebagaimana tradisi fiqh ulama-ulama madzhab Syafii. Semua itu Buya lakukan karena menghargai perbedaan madzhab fiqh, perbedaan yang sifatnya furuiyah belaka, bukan prinsip (ushul) baginya.

Begitulah wajah toleransi Buya terhadap perbedaan khilafiyah. Sebab baginya, persatuan umat lebih penting dan mendesak ketimbang memperlebar jurang perbedaan fiqh. Bahkan terhadap “musuh” politiknya sendiri Buya Hamka memperlakukannya dengan kasih sayang. Singkat cerita, Muhammad Yamin adalah sosok tokoh nasional yang sangat membenci Buya Hamka, karena Buya yang Masyumi dianggap mendukung (terlibat) pemberontakan PRRI di Sumatera Tengah.

Tapi, ketika Yamin sedang sakit-sakitan hendak meninggal, dia berpesan pada Chaerul Saleh agar Hamka didatangkan ke hadapannya. Dia hendak meminta maaf. Setelah Hamka datang, Yamin pun meminta maaf, sambil memegang erat tangan Buya. Sambil keduanya berurai air mata, Buya memaafkan segala kesalahan Yamin itu.

Dalam wasiatnya, Yamin meminta agar Hamka membantu proses pemakamannya di Nagari Talawi Solok, kampungnya. Dia khawatir sebab orang kampung membencinya, dikarenakan Yamin sedari dulu anti (memusuhi) PRRI dan Masyumi.

Begitu pula ketika Soekarno hendak meninggal, dia meminta agar Buya yang mengimami shalat jenazah jika dia meninggal kelak. Wasiat inipun dipenuhi Buya dengan ikhlas karena Allah. Padahal, Hamka dipenjarakan tanpa proses pengadilan selama 2 tahun lebih oleh rezim Soekarno. Bahkan di penjara yang berpindah-pindah itu Buya mengalami penyiksaan. Tapi, tidak ada dendam kesumat sedikitpun, benar-benar luas hatinya (lihat “Pribadi dan Martabat Buya Hamka”, Rusydi Hamka, 2017).

Sekarang kita berlanjut kepada figur Ustad Abdul Somad (lebih lanjut ditulis UAS). UAS adalah sosok ustad yang saat ini sedang memuncak pamornya, khususnya bagi netizen yang akrab dengan media sosial seperti youtube, facebook (fb) dan instagram.

UAS adalah seorang sarjana lulusan S-1 Universitas Al-Azhar dan S-2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko. Pria campuran Melayu Deli dan Riau, saat ini, tinggal di Pekanbaru dan berprofesi sebagai dosen PNS di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

Publik mungkin menilai, terlalu prematur untuk menyandingkan Hamka dan Abdul Somad. Tapi bagi saya, taklah berlebihan jika mengatakan Hamka dan UAS sama-sama menjadi panutan umat. Mengajarkan umat untuk menghargai perbedaan, toleran, ulama yang lurus, tegas dan merangkul semua kelompok Islam. Mereka mengajarkan kita semua nilai itu.

Di era teknologi informasi yang makin canggih, pemanfaatan media sosial internet menjadi keniscayaan. Puncak gelombang peradaban umat manusia dengan hadirnya abad informasi di abad 21, demikian yang ditulis futurolog Alvin Toffler (lihat “Future Shock”, Alvin Toffler, 1970).

Produksi, distribusi, penggunaan sampai pada perekayasaan konten media informasi adalah wajah peradaban manusia modern sekarang. Otomatis pemanfaatan media sosial sebagai sarana efektif dalam berdakwah adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan dakwah modern, di era informasi-komunikasi kepada masyarakat yang cakap juga dalam menggunakannya, yang disebut netizen.

Terkenalnya UAS satu tahun terakhir ini, adalah fenomena dakwah Islam yang sebenarnya bukan hal yang baru. Sederetan nama-nama ustad (dai/mubalig) kondang, yang sudah lama terkenal jauh sebelum UAS juga pernah terjadi.

Mulai dari yang senior seperti KH. Zainuddin MZ, KH. Anwar Sanusi dan Aa Gym sampai kepada Habib Rizieq, Habib Munzir Al Musawwa, Ustad Arifin Ilham, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Jefri Al Bukhori, Ustad Wijayanto, Mamah Dedeh, Ustad Solmed sampai pada Ustad Maulana. Umumnya mereka dikenal melalui media tv nasional.

Beberapa nama dai di atas bisa dikategorikan sebagai “ustad seleb”, yaitu para mubalig yang dikenal publik berdakwah melalui media tv, sering muncul di tv, memiliki acara khusus di sebuah stasiun tv, bahkan ramai pemberitaan dirinya (keluarga) di acara-acara infotainment misalnya (lihat “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online”, Greg Fealy dkk, 2012).

Uniknya kemunculan UAS sampai saat ini bukan karena infotainment, bukan dari media tv melainkan dari media sosial. Berbagai ceramah UAS bisa diakses oleh publik melalui youtube dan fb.

Pertanyaan kemudian adalah, “Apa penyebab sehingga dakwah-dakwah UAS selalu dinikmati, ditunggu-tunggu bahkan dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, di setiap beliau berdakwah? Apa gerangan yang menjadi magnet penarik, keunikan, sehingga jamaah sampai ke angka 13 ribu viewers lebih menonton secara live streaming, di setiap ceramah UAS melalui fb?

Bahkan dalam ceramah-caramahnya, UAS sering menyampaikan pada jamaah bahwa jadwal “manggung” ceramah beliau sudah full sampai Desember 2018, baik di level lokal, nasional maupun internasional. Sebagai penceramah yang tak lahir dari produk infotainment dan entertainment tv, tentu ini adalah fenomena yang menakjubkan dan unik.

Dikenal melalui youtube yang videonya dishare oleh jamaah. Bukan karena berita gosip infotainment media tentang dirinya, tetapi lebih karena luas dan dalamnya pemahaman keislaman UAS. Dikenal bukan karena skenario tv/rekayasa media mainstream, melainkann karena kehendak masyarakat Islam, yang selalu membagi video-video ceramahnya secara online.

UAS hadir pada saat yang tepat, di tengah ghiroh umat Islam yang haus ilmu agama, pengetahuan tentang syariat Islam. Ditambah menguatnya dakwah-dakwah dari sekelompok ustad yang mengidentifikasikan diri/kelompoknya dengan sebutan “Salafi”, yang terkadang isi ceramahnya cenderung memperlebar jurang khilafiyah di tengah keragaman umat dalam praktik ibadah (fiqh). Bahkan acap kali ustad-ustad tersebut dengan berani tanpa tedeng aling-aling, langsung melabeli bid’ah setiap praktik peribadatan muslim Indonesia, yang sudah mentradisi.

Tentu model dan gaya dakwah seperti di atas akan lebih mudah membuat umat terpecah-belah. Padahal sebagai muslim diwajibkan oleh Allah untuk menjaga persatuan dan berpegang teguh pada tali Allah, jangan bercerai-berai. Fenomena dakwah yang serupa ini juga berpotensi melahirkan konflik horizontal di internal Islam sendiri. UAS tampil sebagai antitesis model dan gaya dakwah yang serba menyalahkan dan membid’ahkan tersebut.

Tampilan dakwah yang berisi, luasnya wawasan perbandingan madzhab beliau (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali), penuh dengan guyonan cerdas ditambah logat Melayu yang khas. Menerangkan suatu perkara agama secara tegas, jelas, berdasar dalil dan selalu disisipi humor. Sehingga jamaah pun terhibur, tapi ilmunya tetap didapat.

UAS juga selalu memberikan pilihan kepada jamaah, dalam suatu perkara ibadah yang domainnya ilmu fiqh misalnya, seperti masalah qunut Subuh. UAS dengan terbuka dan gamblang memberikan pandangan tiap-tiap madzhab ulama akan hukum qunut Subuh itu. “Jangan berkelahi hanya masalah khilafiyah!”, demikian nasihat UAS yang acap kali disampaikan.

Urusan produktivitas kepenulisan, UAS sudah menulis buku-buku; “37 Masalah Populer” (2014), “99 Tanya Jawab Seputar Shalat” (2013), “33 Tanya Jawab Seputar Qurban” (2009), dan “30 Fatwa Seputar Ramadhan-terjemahan” (2011). Semua buku karya UAS tersebut bisa diakses secara gratis, baik di internet (ebook-pdf) maupun melalui aplikasi appstore/playstore. Sangat mengagumkan, UAS mempermudah umat belajar Islam secara praktis dan efektif.

Makanya taklah heran, banyak jamaah yang berujar jika UAS adalah Hamka zaman sekarang. Sebab, UAS mengedepankan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan madzhab, menjunjung tinggi persatuan umat dan selalu menekankan agar umat Islam Indonesia melek politik dan berdikari dalam ekonomi. UAS selalu menyuarakan Islam dan politik tak bisa dipisahkan.

Mayoritas umat Islam di Indonesia secara ekonomi adalah kelas menengah ke bawah. Baginya perekonomian umat adalah mutlak tanggung jawab bersama umat Islam. Makanya UAS mengingatkan tentang pemberdayaan perekonomian umat dengan membangun dan mengembangkan sistem ekonomi syariah, hidupkan bank-bank syariah.

Momentum “persatuan umat” dengan aksi damai 411, 212 dan seterusnya, juga berpengaruh terhadap kesadaran umat akan politik. Ini berdampak terhadap popularitas UAS. Baginya syariat Islam hanya akan berjalan dengan baik, jika umat Islam sadar politik, cerdas dalam berpolitik. Satu-satunya jalan agar syariat Islam bisa diimplementasikan di Indonesia yang demokratis ini adalah melalui kekuasaan.

Makanya, bagi beliau pilihlah calon-calon pemimpin, kepala daerah dan legisltaif yang tidak alergi terhadap aspirasi umat. 3 (tiga) poin utama sebagai fokus politik Islam (khususnya di daerah melalui Peraturan Daerah) baginya adalah: 1) integrasikan mata pelajaran bercirikan Islam di sekolah umum (ilmu fiqh, tarikh, aqidah dan lainnya), 2) kepala daerah membuat aturan tentang zakat di daerahnya dan 3) kepala daerah diminta membuat Perda-perda yang bernuansa Islam.

Baginya semua cita-cita politik Islam tersebut, hanya bisa dicapai jika umat Islam yang berkuasa. Tapi jalan untuk mencapainya harus dengan cara-cara demokratis dan konstitusional sesuai hukum, tidak menggunakan kekerasan katanya.

Jadi taklah berlebihan, jika respons umat Islam akan kehadiran dakwah UAS saat ini sangat antusias. Hamka muda telah lahir, walaupun keduanya memiliki perbedaan. Hamka pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, sedangkan Ustad Abdul Somad pernah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (Lembaga Bahtsul Masail) PWNU Riau.

UAS bergaul dengan kelompok Islam manapun seperti Muhammadiyah, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, Perti, Persis, Salafi bahkan FPI, MMI dan HTI yang sudah dibubarkan pemerintah saat ini. UAS juga bercerita, pernah menjadi pengurus masjid Muhammadiyah di Pekanbaru selama 2 tahun. Padahal secara madzhab fiqh, dirinya berbeda dari saudara-saudara di Muhammadiyah. Tiap kali diminta menjadi imam di masjid Muhammadiyah tersebut, dengan rendah hati UAS selalu menolaknya. Dia memilih untuk menjadi makmum saja, karena menghormati jamaah Muhammadiyah.

UAS pun sering mengutip dan menceritakan kisah heroisme dan keulamaan Hamka dalam ceramahnya. UAS mengatakan, dia mengidolakan sosok Hamka, seorang ulama pejuang. Banyak kemiripan keduanya. Sama-sama memperoleh gelar dari Al-Azhar Kairo, dan produktif menulis.

Memiliki kemiripan dalam berceramah, bergaya khas, logat Melayu yang kental, suka berpepatah-petitih Melayu (Minangkabau), suara yang parau dan ceramah yang selalui diikuti oleh tanya jawab memakai media kertas yang tumpukannya melebihi tebalnya skripsi. Jamaahnya berduyun-duyun, selalu memadati masjid saat mendengar dakwahnya. Itulah beberapa kemiripan Buya dan UAS.

Terpenting adalah Hamka dan UAS sama-sama mengajarkan kita umat Islam, tentang indahnya perbedaan, pentingnya menjaga persatuan umat, kesadaran politik bernegara dan paling utama adalah tidak menonjolkan khilafiyah.

Persatuan umat yang mesti dikedepankan. Hamka dan Ustad Abdul Somad membuktikannya dengan tindakan. Ini mendesak dilakukan, karena jika umat terus berkonflik karena urusan khilafiyah, maka persatuan umat Islam hanya akan tinggal utopia belaka.

Semoga Allah senantiasa meridhoi almarhum Buya Hamka dan memberikan kemudahan dalam berdakwah bagi Ustad Abdul Somad, Sang Hamka Muda...!

Oleh: Satriwan Salim
Pengajar Labschool Jakarta-UNJ/Peneliti PUSPOL Indonesia, satriwansalim@gmail.com 

Antara Relawan Kondangan & Relawan Pejuang, Rakyat Tahu Mana Yang Cinta NKRI

Antara Relawan Kondangan & Relawan Pejuang, Rakyat Tahu Mana Yang Cinta NKRI

Berita Islam 24H - Relawan, dan Perbuatan Omong Kosong Soal Pancasila

Dimana-mana, ramai mereka mengaku saya pancasila, saya bhineka tunggal ika dan saya bela NKRI.

Tapi pengakuan sok heroik itu terbukti banyak omong kosong belaka. Karena realitanya, 'Saya Pancasila' itu tidak tercermin dari penghargaannya kepada orang lain.

'Saya Bhinneka Tunggal Ika' itu, tidak mampu ditunjukkan lewat penghormatan mereka kepada perbedaan. Mental aslinya adalah 'Saya Bhinneka Tanpa Ika'.

Dan 'Saya Bela NKRI' ternyata cuma slogan gombalism. Karena terlihat jelas dari bangganya mereka ketika membuat cemoohan kepada orang yang berada diluar kelompoknya.


🚫 KALAU SUDAH BEGINI, SIAPA LEBIH PANTAS DISEBUT RELAWAN YANG SEBENARNYA?

Perbuatan baik atau kelakuan buruk yang ditunjukkan, membuktikan bahwa tak akan pernah ada RELAWAN YANG TERTUKAR.

"GANTENG-GANTENG RELAWAN" adalah sebutan manis untuk mereka yang jelas-jelas telah SUKARELA MEWAKAFKAN diri untuk rakyat.

TERSANJUNG, hanya pantas disematkan kepada relawan yang bekerja dalam diam, sepi dari sorot kamera, dan hening dari gegap gempita pencitraan media masa.







Begitulaah...
Lain ladang, lain belalang.
Lain relawan kondangan, lain pula relawan pejuang.
Lain lubuk, lain ikannya.
Lain yang kemaruk, lain pun yang ikhlas membantu rakyatnya.

✔JIKA MASIH ADA KEMUNGKINAN UNTUK BERUBAH, KUDUNYA PEMILIK PARA RELAWAN MULAI KINI SADAR:

KIAN SERING RAKYAT DIKADALI, SEMAKIN RAKYAT INDONESIA PINTAR DALAM MENILAI SUATU PERBUATAN.

Mau contoh makin pintarnya rakyat?
Rakyat ambil sembako kalian, tapi hatinya memilih yang lain.
Rakyat menerima kedatangan kalian, tapi lebih mengelu-elukan kehadiran kelompok lain.

Jadi rakyat yang sepertinya tenang mendengarkan itu, belum tentu melaksanakan apa yang kalian perintahkan.

✔Waktu terus berkejaran. Hari menjadi bulan, semakin mendekati 2019. Temperatur politik boleh panas, tapi kepalamu tetap harus waras. Jangan setel relawan kalian bebas melakukan penistaan, cuma karena ada contoh macam iwan bopeng, steven tiko, dan laiskodat yang mulus tak tersentuh. Jangan sampai rakyat muak.

SADARLAH, RELAWAN ADALAH CERMIN WATAK PEMILIKNYA. BUDI PEKERTI RELAWAN ADALAH GAMBARAN AKHLAK PEMIMPINNYA.

Karena itu, perbuatan kasat mata Relawan yang terekam di dalam otak, mata, dan telinga rakyat itu, yang akan bekerja menentukan siapa pantas dihargai dan dipilih sebagai pemimpin di masa depan. 

Oleh Agi Betha
(Wartawan Senior)

Thursday, 9 November 2017

Pesta Pora Baru Dimulai

Pesta Pora Baru Dimulai

Berita Islam 24H - Memasuki tahun politik 2018, merupakan saat dimana pesta pora oligarki makin meriah. Pesta pora yang sesunguhnya. Pesta di atas timbunan uang hasil bancakan terhadap harta dan kekayaan negara.

Namun di tengah pesta pora tersebut, menyisahkan ancaman bagi BUMN yang menjadi sasaran bancakan paling strategis oligarki. Mengapa? Karena dengan sistem yang berlaku saat ini, BUMN adalah harta kekayaan negara yang paling mudah dijarah oleh oligarli. BUMN adalah sumber uang paling likuid untuk membiayai pesta pora oligarki penguasa.

Memang sejak semula, ANCAMAN terbesar bagi BUMN bukan datang dari luar saja, atau dari perusahaan asing, atau dari swasta, tapi justru ancaman yang paling besar adalah datang dari penguasa sendiri. Oligarki Penguasa tengah menjalankan agenda menjarah BUMN supaya BUMN lemah dan berikutnya gampang dilahap asing dan taipan yang bersekutu dengan penguasa.

Cara menjarah BUMN ini bermacam macam, diantaranya:

Pertama, BUMN dipaksa mengambil utang dalam jumlah besar. Semakin besar utang, makin bagus prestasi BUMN. Penguasa dapat jatah dari utang tersebut.

Kedua, BUMN dipaksa membuat mega proyek besar dan super mahal. Penguasa dapat jatah belanja proyek dan setoran para kontraktor.

Ketiga, BUMN dipaksa menjual anak perusahaannya satu persatu secara murah untuk dibeli asing dan taipan. Penguasa dapat bagian dari taipan dan asing.

Keempat, BUMN dipaksa menjalankan subsidi dengan keuangan perusahaan, dan pemerintah menolak subdisi melalui APBN. Akibatnya BUMN merugi. Pemerintah, taipan dan asing senang, karena kalau BUMN bangkrut maka lini bisnisnya dapat diambil alih asing dan taipan.

Kelima, BUMN dipaksa menjual mega proyek yang dibangun mahal dengan harga murah. Caranya adalah dengan permainan pasar keuangan. Ini bisa ditur. Penguasa dapat bagian dari rekayasa transkasi penjualan aset BUMN tersebut.

Menjelang Pemilu 2019, BUMN menjadi sasaran paling empuk oligarki penguasa untuk mengeruk uang. Akibatnya biaya penyediaan barang publik menjadi mahal, harga BBM, listrik, tarif tol, dan lain-lain yang dibayar rakyat menjadi mahal, rakyat bertambah miskin, namun penguasa semakin kaya raya, mengumpulkan uang untuk menyogok rakyat dalam rangka mempertahankan kekuasaan politik 2019 mendatang.

Setelah BUMN bangkrut maka penguasa akan dapat untung lagi yakni memperoleh hadiah ucapan terimakasih dari asing dan taipan yang mengambil alih lini bisnis BUMN dengan sangat leluasa. Inilah pesta pora yang sebenarnya.

Oleh Salamuddin Daeng

[beritaislam24h.info / rmol]

Wednesday, 8 November 2017

Petisi Meme Setnov Mendapat Dukungan 48.925 Warganet

Petisi Meme Setnov Mendapat Dukungan 48.925 Warganet

Berita Islam 24H - Sebuah petisi berjudul "Segera Cabut Aduan dan Hentikan Kasus Penyebar Meme Setnov" di laman change.org mendapatkan dukungan 48.925 warganet hingga Selasa pukul 20.30 WIB.

Petisi yang dimulai Koordinator Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFENet) Damar Juniarto dan mendapatkan dukungan sebanyak itu dalam waktu satu hari itu ditujukan kepada Ketua DPR Setya Novanto dan kuasa hukumnya Friedrich Yunadi dan Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Damar mempertanyakan alasan kriminalisasi terhadap 32 akun di media sosial karena membuat dan atau menyebarkan meme Setya Novanto berdasarkan foto saat politisi Partai Golkar itu sedang dirawat di rumah sakit.

"Menyebarkan satir bukan tindakan kriminal. Sejak kapan menyebarkan humor bisa dipenjara?" tanya Damar dalam petisinya.

Damar menyebutkan Novanto sebelumnya dikabarkan akan melaporkan 300 akun ke polisi yang dinilai menghina dengan berbagai meme dan unggahan di media sosial, tetapi kemudian disaring menjadi hanya 32 akun.

"Itu kan becandaan anak medsos. Apa layak yang begini dimasukkan ke penjara?" tanyanya.

Damar menilai kasus tersebut lebih disebabkan pasal defamasi atau pencemaran nama baik yang ada di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Menurut Damar, pasal pencemaran nama baik adalah warisan kolonialisme yang dipertahankan untuk melindungi orang-orang yang berkuasa sehingga warga biasa terancam dipenjara bila ada penguasa yang "baper" atau terbawa perasaan.

"Ini adalah bukti bagaimana pasal defamasi dipelintir menjadi pasal pembungkaman ekspresi. Orang sedang geram dengan alasan sakit yang dipakai Setnov untuk menghindari pemeriksaan korupsi dan kemenengan Setnov di praperadilan atas penetapan tersangka oleh KPK," tuturnya dikutip Antara.

Kegeraman itu yang kemudian mendorong beberapa orang berekspresi dengan membuat meme yang diunggah di media sosial.

"Kalau ini dibiarkan, semakin banyak pejabat publik yang mengirim warga ke penjara karena baper," katanya. [beritaislam24h.info / htc]

Tuesday, 7 November 2017

Aku Pancasila dan Aku Bingung
Fajri Matahati Muhammadin

Aku Pancasila dan Aku Bingung

Berita Islam 24H - Dulu, barangkali hampir semua warga Indonesia ketika disebut angka 212 akan teringat dengan Wiro Sableng. Akan tetapi, 2 Desember 2016 mengubah segalanya. Setelah sebelumnya turun ke jalan pada tanggal 4 November 2016, tujuh juta umat Islam (menurut sebagian klaim) berunjuk rasa besar besaran di Bundaran HI menuntut gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahja Purnama untuk diproses hukum atas dugaan penistaan agama. Hampir tahun sudah berlalu, dan angka 212 memiliki makna baru yang terasosiasi dengan Aksi Bela Islam (ABI).

Antara serius dan kelakar, ada yang bahkan mewacanakan 2 Desember menjadi hari kesaktian Pancasila yang baru. Bagaimana tidak? Tanggal 1 Oktober menjadi hari kesaktian Pancasila dengan konteks pasca-G30S PKI. Tapi sekarang wacana-wacana mulai beredar untuk mempertanyakan kembali apakah betul PKI dan komunisme adalah bertentangan dengan Pancasila. Kini dalam rangkaian kasus penistaan agama, larangan memilih pemimpin non-Muslim, pembubaran ormas tanpa melalui pengadilan, barangkali inilah ujian terbesar kepada Pancasila.

Prof Henning Glaser dari Thammasat University mengatakan bahwa Pancasila sangatlah unik. Menurutnya, Pancasila bisa menyatukan bangsa Indonesia karena ia merupakan semacam ‘wadah kosong’ yang dapat diisi apa saja. Barangkali beliau memang betul, karena dari awal berdirinya Indonesia saja ada banyak konsep Pancasila yang berbeda dari Sukarno, Natsir, bahkan Aidit. Akan tetapi, kita boleh bertanya juga: apakah ‘wadah kosong’ ini betul merupakan pemersatu? Ataukah ini justru akan membuat bingung?

Misalnya saja, selama ABI dan pemilihan gubernur DKI Jakarta, sebagian kalangan berteriak bahwa ‘tidak boleh menunggangi isu agama untuk kepentingan politik’. Mungkin membingungkan dan menimbulkan pertanyaan, mengapa ketika para kandidat pilgub mulai menjual janji-janji dalam hal ekonomi dan kesejahteraan, malah tidak ada yang berteriak ‘tidak boleh menunggangi isu ekonomi dan kesejahteraan untuk kepentingan politik’.

Padahal alasannya jelas, karena suara tadi adalah berdasarkan konsep manusia menurut August Comte. Comte mengatakan bahwa manusia yang paling maju adalah mereka yang berpikir positivis, yaitu berdasarkan hal-hal konkrit materialistis. Di sisi lain, manusia yang masih berpikir dengan menggunakan agamanya adalah manusia yang paling primitif. Perdebatan filosofis tentang kebenaran konsep ini bisa panjang. Tapi apakah pola pikir ini sesuai dengan Pancasila, yang menempatkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama?

Masih bingung kita memikirkan jawabannya, ternyata kita dapati orang-orang yang sama malah mulai berteriak “Aku Pancasila” dalam isu lain yaitu soal Perppu Ormas. Rasanya ada yang agak janggal?

Dua sisi perdebatan pada kasus penistaan agama pun menyitir Pancasila, dengan pertanyaan utama yang besar: apakah menista agama adalah bersesuaian dengan Pancasila? Sebagian kalangan berpendapat bahwa jelas tidak, hingga Mahkamah Konstitusi dulu pernah menolak membatalkan Pasal Penistaan Agama dan kini Pengadilan Negeri Jakarta Utara memberi vonis 2 tahun pada gubernur Basuki.

Sebagian kalangan lainnya tampaknya berpendapat bahwa Pancasila membutuhkan masyarakat yang bebas menista agama lain. Memang tampak tendensius pernyataan ini, tapi barangkali Pasal Penistaan Agama memang membutuhkan kajian lebih lanjut. Di luar perdebatan dalam masalah kebebasan berekspresi, yang tentu ada batasnya menurut konstitusi. Banyak pihak mengkhawatirkan perumusan pasal yang kurang jelas, dan barangkali kekhawatiran itu ada benarnya.

Pancasila kembali diuji ketika gubernur DKI terpilih Anies Baswedan menggunakan kata ‘Pribumi’ dalam pidato pertamanya. Sebagian kalangan menuding bahwa Anies bersifat diskriminatif, rasis, dan bertentangan dengan 'kebinekaan'. Kalangan ini menarik sekali sebetulnya. Sebelumnya, kalangan yang sama pernah mendukung seorang pejabat publik yang terkenal dengan kekasaran lisannya dengan dalih bahwa toh kerjanya bagus. Padahal ‘beradab’ adalah konsep kemanusiaan menurut Sila Kedua, dan karakteristik pemimpin adalah ‘hikmat kebijaksanaan’ menurut Sila Keempat.

Tiba-tiba kalangan ini berubah pikiran seketika saat calon gubernur yang tidak mereka sukai menggunakan kata yang ‘tidak pantas’. Anies tidak mendapatkan kesempatan untuk dilihat dulu kinerjanya, ataupun prasangka baik sebagaimana yang didapatkan oleh Megawati Soekarnoputri dan Susi Pudjiastuti yang tidak terlalu lama sebelumnya juga menggunakan istilah ‘pribumi’.

Kalangan ini pun bingung dan tidak melihat konteks penggunaan kata ‘pribumi’ dalam pidato Anies secara keseluruhan, yang jelas tidak berbicara masalah rasial. Padahal, sebelumnya kalangan yang sama mengkritik kriminalisasi penistaan agama karena harusnya peserta ABI memperhatikan konteks. Kritik ini memang betul, karena perlu diingat sekali bahwa ucapan kontroversial gubernur Basuki terjadi sedang melakukan penyuluhan budidaya ikan di Kepulauan Seribu. Beda dengan Anies Baswedan yang tidak ingin rakyat Indonesia ekonominya didominasi oleh asing.

Pancasila kembali diuji ketika datang Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi Undang-Undang oleh DPR. Saat itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi korban pertama. Membingungkan sekali bagaimana naratif dibangun, yaitu bahwa diperlukan sebuah hukum untuk melarang ormas yang bertentangan dengan Pancasila. Padahal, larangan ormas bertentangan dengan Pancasila sudah ada di UU Ormas yang lama.

Yang berbeda adalah bahwa pembubaran ormas kini tidak lagi melalui mekanisme pengadilan. Ironis dan membingungkan sekali bahwa kalangan pendukung kebijakan inilah yang dulu menolak kriminalisasi penistaan agama terhadap gubernur Basuki dengan dalih Hak Asasi Manusia. Kini, mereka ganti mengangkangi HAM dengan menihilkan peran peradilan dalam membatasi hak berserikat yang merupakan hak konstitusional.

HTI pun tentu bingung dengan tuduhan anti-Pancasila ini. Dari dulu mereka selalu mengadvokasi sistem negara baru (yaitu kekhilafahan), dan konsisten pula taat pada hukum Indonesia selama sistem baru tersebut belum terlaksana. Dengan segala keajaiban pemikiran mereka, HTI selalu konsisten dari awal dan dengan pemikiran tersebut mereka mendapatkan izin berdiri. Betapa bingungnya HTI ketika rencana pemerintah membubarkan mereka diumumkan oleh seseorang yang dulu pernah hadir dan memberi sambutan di acara HTI.

Apakah memang Pancasila adalah membingungkan? Ataukah kita saja yang bingung?

Presiden Joko Widodo melalui Perpres Nomor 54 tahun 2017 membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Berbeda dengan Pancasila model era orde baru dulu, UKP-PIP merangkul pihak-pihak dari berbagai kalangan dan aliran pemikiran. Tentu saja mudah menyebut beberapa kelompok pemikiran yang tidak terrepresentasikan dalam tim tersebut, tapi tentu ini merupakan kemajuan dan bolehjadi merupakan upaya yang baik.

Akan kita lihat bagaimana hasil dari tim ini, bagaimana perumusan Pancasila yang akan dihasilkan. Apakah UKP-PIP bisa memberi titik terang pada kebingungan kita dalam memaknai Pancasila? Apakah ia bisa membentuk konsep Pancasila yang konkrit dan benar-benar dapat mengakomodasi ke-‘bineka’-an dan ke-‘tunggal ika’-an secara seimbang? Ataukah akan dihasilkan Pancasila bernapas diktator sebagaimana P4 orde lama yang hanya dikemas lebih cantik saja (atau 'ganteng', karena dominan diisi pria)? Mari kita lihat dan amati perkembangannya.

Oleh Fajri Matahati Muhammadin
Dosen Departemen Hukum Internasional, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada

Lagi-lagi Anies Berhasil Membuat Lunglai Para Pembencinya

Lagi-lagi Anies Berhasil Membuat Lunglai Para Pembencinya

Berita Islam 24H - Hari ini Minggu (5/11/2017), lagi-lagi Anies bikin sebagian public Jakarta kecewa luar biasa. Bagaimana tidak? Di tengah upaya mem-framing Anies sebagai tokoh intoleran, termasuk berusaha mengait-ngaitkan Anies dengan peringatan setahun aksi Bela Islam (Aksi 411) kemarin, Gubernur DKI Jakarta itu justru hari ini meresmikan pemugaran Pura Dalem Purnajati Tanjung Puri, Jakarta Utara, milik Umat Hindu se-Jakarta siang tadi.

Para pesimis seperti ditampar berkali-kali. Sebelum meresmikan Pura, hari ini Anies juga sempat melayat Drs.Eddie Lembong, seorang tokoh utama Perhimpunan Tionghoa Indonesia di rumah Kremasi Heaven, Pluit, Jakarta. Dengan Almarhum Anies bersahabat. Perjalanan Anies di dua titik itu makin membuat lunglai kaum pesimis. Setelah mereka lemas dengan peresmian Gereja HKBP Semper minggu lalu.

Setelah berkeliling Pura Dalem Purnajati siang tadi, Anies secara khusus diberikan dukungan oleh Umat Hindu yang hadir. Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pemugaran Nyoman Gustiana menyampaikan bahwa sehari sebelum peresmian, seluruh Umat Hindu Jakarta berdoa agar Gubernur Anies bisa hadir. Ketua Suka Duka Hindu Dharma DKI Jakarta bahkan mengaku senang sekali, karena gubernur Anies bisa mengayomi umat beragam yang ada di Jakarta.

Anies yang hadir mengenakan pakaian adat Bali berwarna hitam lengkap dengan penutup kepala khas juga menunjukkan sikap yang membuat para pembencinya makin tak mampu berkomentar. Ketika sambutannya belum lagi selesai, kumandang azan di dua masjid sekitar Pura terdengar. Anies lalu berkata, "Sebagai wujud toleransi, mari kita berhenti sejenak," Ia lalu memberhentikan pidatonya. Anies kemudian melanjutkan pidato usai azan selesai.

Anies bukanlah orang yang pernah berteriak : Saya Pancasila, Saya NKRI !. Ia tak pernah banyak bicara soal toleransi. Anies punya banyak Interaksi yang menunjukkan siapa dia sesungguhnya, meresmikan gereja Ia tak keberatan, meresmikan Pura Ia pun mau. Melayat almarhum sahabatnya beretnis tionghoa pun dilakukannya. Bagi Saya, Anies adalah toleransi itu sendiri.

Buat Anda yang masih belum move on, membuat orang membenci Anies itu sederhana, cukup sebarkan kabar : Anies itu gubernur radikal, Anies itu intoleran, Anies itu Gubernurnya FPI. Tapi bersiaplah kecewa, karena setelah orang melihat apa yang dilakukan Anies terhadap berbagai umat beragama, maka tuduhan itu hanya akan tersebar sebagai kabar bohong (hoax), dan Anda mau jadi salah satu penyebar kabar bohong itu?

Oleh Alberto Hasibuan

Monday, 6 November 2017

DR. Moeflich Hasbullah: Sejak Kapan NU Sibuk Menjadi Reaksioner Melakukan Penolakan-penolakan Pengajian?

DR. Moeflich Hasbullah: Sejak Kapan NU Sibuk Menjadi Reaksioner Melakukan Penolakan-penolakan Pengajian?

Berita Islam 24H - Sebagai pengamat, saya sangat menyanyangkan surat pengurus NU Garut ini. Surat ini menunjukkan kekalahan NU dalam "track balapan" atau persaingan dengan gerakan Islam baru atau kelompok Islam non mainstream.

Sejak kapan NU sibuk menjadi reaksioner melakukan penolakan dan penolakan pengajian sesama umat Islam dimana-mana? Ini sebenarnya bukan cirinya kaum Nahdhiyin. Mereka punya ulama-ulama dan kyai-kyai mumpuni yang mengelola banyak pesantren dengan ribuan santrinya. Itu rumah-rumah damai mereka. Kaum Nahdhiyin harusnya percaya diri dengan sosok-sosok ulama yang mereka miliki.

Mestinya, menurut saya, NU konsentrasi saja menggarap pesantren-pesantren mereka sebagai amanat nubuwwah yaitu sistem pendidikan Islam tradisional pesantren yang sudah terbukti ketangguhannya.

Bukankah penolakan demi penolakan yang dilakukan NU itu menunjukkan kelemahan diri yaitu kekalahan dalam persaingan perebutan meraih simpati umat sehingga disibukkan oleh hal-hal yang sifatnya reaksioner? Penolakan ini membesarkan Ust. Bahtiar Nasir dan Ust. Felix di tempat lain.

Mudah-mudahan NU kembali ke khittahnya untuk menjaga basis tradisionalnya sebagai khazanah Islam Indonesia.

Kerugiannya reaksioner adalah, NU dan para kyainya menjadi disibukkan oleh mereaksi kelompok-kelompok Islam lain dengan pikiran, tenaga dan konsentrasi mereka tercurahkan kesitu.

Dikhawatirkan, pesantren-pesantren menjadi tak terurus dan terbengkalai karena para kyainya disibukkan merespon dan mereaksi yang sebenarnya bukan siapa-siapa melainkan saudara-saudara seiman dan seislam mereka sendiri yang berbeda tugas wilayah dakwahnya.

Para santrinya nanti mencontoh mereka, atau merasa diwarisi tradisi konflik para pemimpinnya, para kyainya dan guru-guru mereka, bukannya keteladanan akhlak untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya apalagi dari saudara-saudara sesama Muslim mereka selama tauhidnya lurus, syahadatnya sama, Qur'annya sama, Nabinya sama. Wallahu a'lam.

Oleh: DR. Moeflich Hasbullah
(Pakar Sejarah Islam, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

[beritaislam24h.info / pi]
Jurnalis Senior: Waspada! Islam Dibenturkan dengan Islam

Jurnalis Senior: Waspada! Islam Dibenturkan dengan Islam

Berita Islam 24H - Jurnalis wanita senior, ibu Nanik Sudaryati prihatin dengan maraknya pembubaran pengajian. Salah satunya yang menimpa ustadz Felix Siauw. Sedihnya pembubaran pengajian malah oleh sesama orang Islam. Ini jelas agenda penghancuran Islam.

Berikut postingan ibu Nanik Sudaryati di akun fbnya, Senin (6/11/2017):

Saya tadinya ngerem utk tidak bicara, tapi kok makin sedih. Pengajian dibubarkan oleh orang Islam sendiri. Berarti judulnya jelas, Islam vs Islam.

Mohoh saudaraku berhati-hatilah kita ini sedang dibenturkan. Islam dalam rangka dibelah dan bukan tidak mungkin dimusnahkan.

Ingatlah saudaraku, akan dimunculkan satu kelompok yg paling benar, dan punya otoritas utk menghajar golongan Islam lainnya. Padahal setelah yg lain lemah, maka nanti golongan yg dianggap paling benar itupun juga akan dihancurkan.

Sudah 8 negara yg mayoritas muslim, modus seperti ini dilakukan. Di Indonesia sdh sejak zaman reformasi sebetulnya degradasi Islam dimulai. Alhamdulillah kita masih kuat, dan belum berhasil. Nah sekarang mulai masif lagi dibenturkan.

Ayo Islam bersatu, kita sedang diadu oleh kekuatan besar. Pak Din Syamsudin yg sudah ditunjuk Pemerintah utk jadi juru bicara dalam masalah agama, ayo satukan umat.

(Nanik Sudaryati)

Sunday, 5 November 2017

Mengenang Setahun Aksi 411: Disangka Kerikil, Ternyata Gunung Es Yang Menenggelamkan Titanic

Mengenang Setahun Aksi 411: Disangka Kerikil, Ternyata Gunung Es Yang Menenggelamkan Titanic

Berita Islam 24H - Tepat pada hari diadakannya Aksi Bela Islam II tanggal 4 Nopember 2016 setahun yang lalu, ada sebuah foto menarik yang viral di media sosial. Yaitu foto Ahok ditemani 3 orang dekatnya: Prasetyo Edi Marsudi (Ketua DPRD DKI sekaligus ketua tim pemenangan paslon Ahok-Djarot dari PDIP), Yunarto Wijaya (pengamat politik langganan Metro TV, pemilik Charta Politica, sekaligus konsultan politik Ahok) dan Charles Honoris (anggota DPR RI fraksi PDIP).

Entah mereka sedang berada di ruangan/kantor milik siapa, yang jelas pada latar belakang ada sebuah pesawat TV dengan layar cukup lebar, sedang menayangkan siaran langsung suasana AKSI 411.

Tampak keempat orang itu berwajah cerah ceria, termasuk Ahok. Prasetyo Edi Marsudi dan Yunarto Wijaya malah menunjukkan optimisme, terlihat dari kedua jari tangan kanan mereka membentuk huruf "V", jamaknya simbol "victory" sekaligus juga melambangkan angka "2" sebagai nomor urut paslon Ahok-Djarot dalam Pilgub DKI.

Rupanya hiruk pikuk aksi damai massa di seputaran Istiqlal, Bundaran HI hingga Istana Merdeka, sama sekali tak mempengaruhi mereka. Bahkan jutaan ummat Islam yang menyemut memutihkan seluruh area Bundaran HI dengan semangat '45, seakan diyakini tidak akan membawa pengaruh pada elektabilitas Ahok. Optimisme yang kelewat over dosis sebenarnya. Ini ibarat sang pemilik kapal besar Titanic yang yakin tak akan ada kekuatan apapun yang mampu menenggelamkan kapalnya.

Agak aneh sebenarnya, mengingat keberadaan Prasetyo Edi Marsudi dan Yunarto Wijaya. Sebagai pengamat politik dan pemilik lembaga survei, Yunarto seharusnya peka dengan setiap aspek non politis yang terjadi pada salah satu kontestan pemilu/pilkada. Sebab pilkada adalah soal bagaimana memenangkan hati masyarakat pemilih. Jadi apapun fenomena sosial yang terjadi di masyarakat yang cukup signifikan, selayaknya harus masuk dalam parameter yang jadi penentu akurasi pengamatannya soal prediksi elektabilitas sang calon.

Sebuah aksi yang diikuti jutaan orang, saat itu baru terjadi pertama kali. Memang pesertanya tidak hanya warga DKI, banyak diantara peserta aksi yang datang dari luar DKI, bahkan sudah masuk Jakarta sejak 2-3 hari sebelum 4 November 2016. Mereka ditampung menginap di masjid-masjid sekitar Istiqlal, selain di Istiqlal sendiri. Bahkan beberapa stasiun TV memberitakan betapa antusianya pengurus masjid menyambut para "tamu" dari luar kota, dengan menyiapkan fasilitas untuk tempat tidur dan mandi bagi jamaah luar kota. Warga sekitar pun secara spontanitas mengumpulkan dana dan menyumbangkan makanan dan minuman. Artinya: kaum Muslim DKI welcome dengan aksi tersebut!

Ini tidak bisa dipandang sebelah mata bahwa sebagian besar warga DKI, terutama ummat Islam nya, mendukung penuh Aksi Damai yang tujuannya mendesak agar Ahok diproses secara hukum atas ujarannya di Kepulauan Seribu.

Sangat naif jika menganggap aksi besar itu tidak perlu dianggap, tak perlu dimasukkan hati, besok juga sudah lupa. Tidak! Bagi seorang pengamat politik, aksi massa sebesar ini selayaknya jadi amatan serius dan jadi tolok ukur memprediksi ulang capaian elektabilitas calon yang di-endorse-nya. Bukannya justru ditutupi seolah tak ada dampak apapun, dengan merilis hasil-hasil survei yang memenangkan jagoannya dan mengecilkan pesaingnya.

Bagi seorang politisi parlemen seperti Prasetyo Edi, mungkin proses pengambilan keputusan politik sudah biasa. Lobby-lobby politik bisa dilakukan untuk menggiring lawan agar bisa bersepakat untuk suatu issu yang sedang dibahas. Bahkan bila perlu ada bargaining politik agar lawan menyerah. Itu jika di dalam parlemen. Tapi di ajang pilkada, rakyatlah yang mengambil keputusan. Lobby-lobby politik dengan rakyat tidak semudah dengan parpol. Pilkada tidak berada di ruang hampa. Melainkan ada di tengah hiruk pikuk opini dan persepsi publik. Pilkada hadir di tengah keriuhan masyarakat pemilik hak suara di TPS. Maka, optimisme hanya karena merasa calonnya diusung parpol pemilik kursi terbanyak di parlemen adalah optimisme semu.

Alhasil, 4 orang dalam foto viral itu ibarat para awak kapal Titanic yang semula meremehkan sebongkah es yang menabrak kapal mereka. Mana mungkin bongkahan es mampu mengoyak lambung kapal yang terbuat dari besi baja terbaik pada jamannya.

Mereka tak sadar bahwa itu bukanlah secuil bongkahan batu es, melainkan puncak dari gunung es. Maka, ketika pengabaian itu terjadi, dalam tempo sekejap lambung kapal sudah sobek dan kapal pun miring. Saat itulah, mereka yang sedang asyik berpesta di atas kapal, tetiba panik. Sudah terlambat untuk menyelamatkan diri, karena kapal sudah semakin miring dan akhirnya tenggelam.

Serupa itulah mungkin, ketika Aksi Damai 411 awalnya diremehkan. Bahkan aparat kepolisian dan intelijen pun sama sekali tak memprediksi pesertanya bakal mencapai jutaan orang. Kapolri Tito Karnavian ketika hadir di acara ILC bertajuk "Setelah 411", mengakui bahwa dirinya semula memprediksi jumlah peserta aksi hanya sekitar 50 ribuan orang saja. Bahkan Presiden Jokowi semula mendapat informasi intelijen jumlah peserta aksi diperkirakan cuma 18.000 orang.

Pengamat politik Indobarometer, M. Chodari, menyesalkan melesetnya informasi intelijen yang sampai kepada Presiden, yang gagal memprediksi besarnya aksi massa pada 4 November 2016.

Seorang buzzer yang tulisannya jadi rujukan para pendukung Ahok, pada pagi hari tanggal 4 November itu bahkan menulis bahwa Istiqlal sepi. Untuk meyakinkan penggemar tulisannya, dia mengunggah sebuah foto yang menggambarkan suasana Istiqlal yang hanya dihadiri beberapa puluh orang saja. Ada yang mengatakan foto itu sebenarnya bukan foto riil kondisi Istiqlal saat itu, melainkan foto yang diambil dari berita di Tempo untuk event yang sudah lama berlalu. Mungkin si buzzer tak menyangka bahwa di media sosial dan grup-grup WA sejak Kamis tengah malam hingga Jum'at dini hari sudah banyak beredar foto-foto kondisi terkini Istiqlal saat itu. Andai saja dia mau menghidupkan televisi dan menyimak reportase langsung para reporter dan juru kamera, mungkin si buzzer akan cari issu lain untuk mendelegitimasi Aksi Damai 411, ketimbang mengatakan Istiqlal sepi.

Ya, itulah yang terjadi setahun yang lalu. Bisa dikatakan seluruh elemen pendukung Ahok menanggapi Aksi Damai 411 dengan sebelah mata, UNDER ESTIMATE.

Mulai buzzer sampai timses dan konsultan politik, seakan menganggap aksi itu hanyalah kerikil semata. Hanya akan menyebabkan tersandung kecil, namun tak sampai terjatuh. Bahkan tak akan membuat tubuh limbung.

Padahal sejatinya Aksi Damai 411 adalah salah satu puncak gunung es dari ukhuwah Islamiyah ummat Islam yang belakangan merasa terpinggirkan meski mayoritas secara jumlah. Masih ada lagi puncak gunung es yang lebih besar. Terbukti, tepat 4 minggu kemudian, ada Aksi Super Damai 212 yang jumlah pesertanya 3x (tiga kali) lipat dari Aksi Damai 411.

Meski Presiden Jokowi sudah mengundang pimpinan sejumlah ormas Islam besar, termasuk NU dan Muhammadiyah, dengan maksud agar ormas-ormas Islam itu bisa mengeluarkan himbauan melarang anggotanya ikut Aksi 411, namun peserta aksi tak terbendung. Sebab Aksi Bela Islam adalah lintas ormas, lintas parpol, lintas harokah. Ummat ikut perintah ulama, bukan perintah pimpinan ormas apalagi perintah pimpinan parpol.

Alhasil, rangkaian Aksi Bela Islam itu ternyata bukanlah kerikil-kerikil kecil semata. Gunung es itu sudah terbukti mampu mempengaruhi masyarakat pemilih, dan merobek lambung kapal megah yang diawaki parpol-parpol besar yang konon mesin politiknya handal, dinakhodai pemodal besar, dan dilengkapi radar canggih dari lembaga-lembaga survei.

Banyak hikmah bisa diambil dari kejadian setahun lalu ini. Bagi ummat Islam Indonesia, hendaknya kita terus merawat dan menguatkan buhul ukhuwah Islamiyah. Ada atau tidak ada kasus penistaan agama, ukhuwah harus tetap dijaga. Ukhuwah ini harus dirajut terus, bukan hanya di DKI, tapi di daerah manapun kita berada.

Bagi politisi, partai politik, pengamat/konsultan politik, hikmahnya adalah: JANGAN PERNAH MENYEPELEKAN ASPIRASI RAKYAT!

Politik tidak berada di ruang hampa. Kontestasi politik adalah perjuangan merebut hati rakyat, memenangkan opini dan persepsi publik. Dan itu semua tidak bisa dicapai dalam waktu semalam. Sebab rakyat akan mencatat setiap perilaku politisi dan kebijakan partai politik. Yang mencederai kepercayaan rakyat, yang melukai hati rakyat, yang menafikan kehendak rakyat, semua akan dicatat di hati rakyat. Dan bersiaplah menerima balasannya di bilik-bilik suara.

Tapi nampaknya..., banyak politisi dan parpol yang tidak/belum mau belajar dari peristiwa ini. Jangan sampai, ketika kapal sudah nyaris tenggelam, baru tersadar bahwa rakyatlah nakhoda sebenarnya. Baru sadar bahwa aspirasi rakyat bukanlah kerikil kecil, melainkan puncak-puncak gunung es.

Terima kasih para ulama, khususnya yang tergabung dalam GNPF MUI, karena berkat Aksi Damai 411 dan Aksi Super Damai 212 ummat Islam Indonesia akhirnya bisa bersatu, melupakan sekat-sekat ormas dan orsospol. Semua demi "Bela Islam".... Semoga Allah ridho dengan perjuangan kita.

Oleh Iramawati Oemar 
(Eks jurnalis)

Saturday, 4 November 2017

PBNU: Seribu Lady Gaga Tak Merusak Iman Nahdliyin; Tapi Kenapa Takut Pengajian 1 Felix Siauw?

PBNU: Seribu Lady Gaga Tak Merusak Iman Nahdliyin; Tapi Kenapa Takut Pengajian 1 Felix Siauw?

Berita Islam 24H - Ketika Lady Gaga akan datang ke Indonesia dulu, PBNU menyatakan warga NU tidak akan terpengaruh. Jangankan satu, seribu Lady Gaga pun tidak akan berpengaruh. Oleh karena itu, PBNU tidak perlu ikut mendukung pembubaran konser Lady Gaga.

"Bagi NU mau ada seribu Lady Gaga nggak akan mengubah keimanan orang NU," Ketua PBNU Said Agil Siradj usai menghadiri acara Ruwatan Budaya Pendadaran Kampus Sokalima di Universitas Indonesia (UI), Jumat malam, 18 Mei 2012.

Said mengatakan iman tidak akan goyang, akhlak tidak akan merosot, hanya karena kedatangan Lady Gaga. Said mencontohkan, "Jika di sebelah saya ada kemaksiatan, iman saya tidak akan tergoyah karena saya berakhlak," katanya.


Tapi kenapa dengan 1 orang Felix Siauw Malah Risau?

[Sabtu, 4 November 2017]
Ustaz Felix Tinggalkan Pengajian di Bangil setelah Didemo Massa NU

Massa Badan Otonom (Banom) NU Bangil mendemo Ustaz Felix Siauw yang akan mengisi pengajian akbar bertajuk Antara Wahyu dan Nafsu, di Masjid Manarul Gempeng, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (4/11/17).

Ketua Ansor Bangil, Saad Muafi mengungkapkan, penolakan dilakukan bersama dengan organisasi di bawah naungan NU lainnya, yakni IPNU, Banser serta Pagarnusa.


Harusnya belajar dari Said Aqil Siradj "Mau ada 1000 Felix Siauw gak akan mengubah keimanan warga NU".

Terlebih kalau mau berpedoman kepada Al-Qur'an...

مُّحَمَّدٌ۬ رَّسُولُ ٱللَّهِ‌ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُ ۥۤ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَہُمۡ‌ۖ

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.." (QS Al-Fath[48]: 29)

MASIH KAH AL-QUR'AN DIJADIKAN PEDOMAN???

MASIH KAH KITA UMAT NABI MUHAMMAD???

SIAPAKAH YANG DIUNTUNGKAN DARI PERTIKAIAN SESAMA MUSLIM???

UNTUK SIAPAKAH INI SEMUA??? 

Alexis dan Calon Presiden

Alexis dan Calon Presiden

Berita Islam 24H - Upaya manajemen hotel dan pusat hiburan Alexis untuk memperpanjang izin usaha tak menemui hasil. Pemprov Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta menolak memperpanjang daftar ulang tanda daftar usaha pariwisata (TDUP) Alexis. Dalih utama dari penolakan itu adalah adanya bentuk pelacuran terselubung yang ada di hotel tersebut.

Suasana pro dan kontra mengiringi penutupan Alexis di era Gubernur Jakarta, Anies Baswedan. Ini sangat kontras dibandingkan saat Ahok pada pertengahan 2014 menutup diskotek Stadium yang diduga kuat menjadi sarang peredaran narkoba. Kala itu pujian seolah datang dari seluruh penjuru Jakarta. Tindakan Ahok dianggap sudah tepat dan itu sekaligus memperlihatkan keberaniannya.

Penutupan diskotek Stadium dinilai merupakan bukti konsistensi Ahok untuk bersikap tidak pandang bulu terhadap segala bentuk penyimpangan. Koor dukungan pada Ahok serentak membahana di kala itu. Saat itu pula, sebagian masyarakat ibu kota sempat berharap agar Ahok juga menutup Alexis yang diduga kuat juga sarat dengan transaksi narkoba dan praktik pelacuran. Namun, harapan masyarakat itu tak terpenuhi. Kuatnya beking yang ada di belakang Alexis menjadi salah satu alasan, mengapa hotel yang berada di kawasan Jakarta Utara itu tetap beroperasi.

Tatkala Anies memutuskan untuk tak memperpanjang izin Alexis, rupanya tak serta-merta semua pujian menghampirinya. Sebagian pihak memuji langkah dan keberanian Anies yang begitu luar biasa. Sebagian lain justru mengecamnya.

Tudingan adanya praktik pelacuran juga tak dapat menjadi alasan yang bisa diterima pihak yang menolak tersebut. Anies diminta membuktikan adanya praktik pelacuran terselubung itu.

Dalih ini terasa aneh. Jauh sebelum itu, Ahok dengan lantang mengatakan adanya praktik pelacuran di lantai tujuh Hotel Alexis. Pada media massa, awal 2016, Ahok mengaku sempat memarahi anak buahnya yang tak menemukan adanya pelacuran di Alexis. Ahok lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengecek lagi.

Akhirnya anak buahnya mengaku, di lantai tujuh Alexis ada prostitusi yang melibatkan pelacur dari pelbagai negara. Bahkan kemudian Ahok menyebutkan, lantai tujuh di Alexis itu sebagai surga dunia. “Di Alexis, surga bukan di telapak kaki ibu akan tetapi di lantai tujuh,” papar Ahok saat itu.

Anehnya, saat itu tak ada yang membantah keterangan Ahok. Namun kini ketika Alexis ditutup, beberapa pihak meminta agar Anies membuktikan adanya pelacuran itu. Politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang meminta hal ini. Saat Anies mengaku punya bukti adanya praktik pelacuran itu dan memiliki data para pengunjungnya, pihak yang memprotes justru meminta agar data tamu itu tak diungkap kepada publik.

Inilah salah satu keanehan tersebut. Pada satu sisi, mereka minta bukti dan keterbukaan. Ketika ada jawaban Pemprov DKI bahwa bukti itu ada, mereka buru-buru berteriak agar bukti itu tak diungkap pada khalayak. Bisa jadi, mereka khawatir nama koleganya --atau malah dia sendiri-- ada dalam daftar itu.

Sebagian yang tak sepakat dengan penghentian operasi Alexis juga memita agar Pemprov DKI ikut memikirkan keberadaan karyawan Alexis yang jumlahnya ratusan dan bakal menganggur Pada satu sisi, saran ini masuk akal dan selayaknya mendapat tanggapan positif. Di sisi lain, usulan ini terasa tidak adil. Mengapa pada kasus Alexis mereka memikirkan keberadaan tenaga kerja yang kemungkinan bakal mennganggur, sedangkan terhadap reklamasi yang menghilangkan mata pencaharian nelayan justru tak dipikirkan sama sekali? Karyawan Alexis hanya ratusan dan paling banyak 1.000 orang. Adapun nelayan Teluk Jakarta yang kehilangan mata pencaharian mencapai puluhan ribu. Total jumlah nelayan yang terganggu mata pencahariannya (bersama anggota keluarganya) ada sekitar 104 ribu.

Cara berpikir dan bersikap adil harusnya mereka tunjukkan sejak dalam niat. Jangan hanya karena kebijakan itu dibuat oleh koleganya atau junjungannya, maka akan didukung habis-habisan, apa pun bentuknya. Sedangkan kebijakan yang dibuat pihak lain, sekalipun bernilai sama, harus dipersoalkan atau digugat.

Salah satu langkah yang akan ditawarkan Pemprov DKI adalah membuat persewaan mobil dinas anggota DPR yang jumlahnya ratusan unit agar bisa menampung sebagian eks karyawan Alexis. Memang rencana itu, kalaupun terwujud, belum tentu mampu menampung seluruh karyawan Alexis yang bakal menganggur. Meski begitu, hal tersebut merupakan bukti nyata dan kepedulian Pemprov DKI atas konsekuensi kebijakan yang diambilnya.

Kalaupun ada masukan kepada Anies soal tak diperpanjangnya izin Alexis, mestinya kebijakan itu bukan harga mati. Surat penolakan untuk memperpanjang izin itu seyogianya diberi keterangan tambahan, bahwa larangan beroperasinya Alexis berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan. Jika manajemen Alexis mampu menghentikan praktik pelacuran kelas dunia tersebut dan juga menutup diri atas segala bentuk peredaran narkoba di dalam lingkungan hotel, mungkin izin operasinya bisa diaktifkan lagi.

Sebagai sebuah hotel dan dilengkapi dengan sarana hiburan, Alexis memang berhak hidup. Sepanjang pengoperasiannya tidak menerabas pagar aturan, maka tak ada alasan untuk menghentikannya. Apa yang dialami oleh manajemen Alexis saat ini, tidak keluarnya izin perpanjangan TDUP, pastilah berhubungan dengan pelanggaran yang mereka lakukan bukan sekadar kebijakan untuk memenuhi janji kampanye Anies-Sandi belaka.

Selain penutupan Alexis, hal lain yang kini menjadi pembicaraan hangat masyarakat adalah kelanjutan reklamasi Teluk Jakarta. Dalam pelbagai kesempatan, Wagub Jakarta, Sandiaga Uno, mengutarakan keputusan untuk menghentikan reklamasi. Pertimbangan utamanya tentu karena dampak kerusakan ekosistem laut akibat reklamasi, hilangnya mata pencaharian puluhan ribu nelayan, dan peruntukannya yang hanya buat kalangan tertentu. Demi untuk kepentingan sekelompok orang (termasuk rencana pembangunan bandara di salah satu pula), reklamasi harus mengorbankan puluhan ribu nelayan.

Rencana kelanjutan reklamasi tentu harus dihentikan. Sedangkan pulau-pulau yang sudah telanjur direklamasi dan dibangun mungkin ada baiknya dimanfaatkan untuk kepentingan umum yang lebih luas, tak sekadar untuk memenuhi kehendak pengembang saja. Membiarkan begitu saja pulau yang sudah dibangun dan direklamasi, tentu juga bukan keputusan yang bijak. Pulau-pulau yang sudah dibangun ini pun harus dimiliki oleh pemerintah dan tak boleh sepenuhnya menjadi milik swasta.

Keputusan Anies-Sandi untuk tidak meneruskan reklamasi bukan sekadar tindakan yang berani. Selain keputusan yang tepat, hal itu juga menunjukkan keberpihakan keduanya pada kepentingan yang jauh lebih besar, yakni keseimbangan ekosistem dan kemaslahatan bersama. Para pengusaha kelas kakap, termasuk Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan Presiden Joko Widodo, yang berada di belakang kebijakan reklamasi tak boleh menjadi penghalang, bila keputusan yang diambil merupakan jalan kebenaran.

Beberapa pihak berpendapat, jika Anies mampu menghentikan rencana reklamasi, maka posisinya akan semakin kuat dan bukan tidak mungkin mendapat simpati luas masyarakat. Ini memperlihatkan independensi Anies yang tinggi keteguhan dalam bertindak. Dengan begitu, sebagian kalangan berpendapat dan bahkan cenderung mendorong, bahwa Anies dianggap layak untuk sekaligus maju sebagai salah satu alternatif capres dalam pemilu 2019.

Saya sungguh tidak sependapat dengan pandangan ini. Jika kemudian Anies benar-benar mau maju sebagai capres 2019, itu adalah bentuk pengkhianatan kepada warga Jakarta yang telah memilihnya. Baru dua tahun menjabat, sudah hendak meninggalkan posisinya untuk semata mengejar kedudukan yang lebih tinggi, itu bukanlah bentuk pengabdian. Justru itu contoh nyata dari sosok yang berorientasi pada kekuasaan semata.

Cukuplah sudah kebohongan itu sekali terjadi pada warga Jakarta. Hendaklah tidak lagi menambah luka bagi penduduk Jakarta yang sekadar dijadikan pijakan untuk mengais popularitas dan meloncat lebih tinggi lagi demi ambisi pribadi. Pengabdian dan komitmen yang tulus untuk membangun dan menyejahterakan warga Jakarta sudah barang tentu akan otomatis membawa dampak popularitas bagi pejabat yang bersangkutan.

Oleh: Arif Supriyono

[beritaislam24h.info / rci]